Ketua KNPI dan Karang Taruna Kecamatan Gunungguruh menyikapi dugaan gangguan kesehatan terkait MBG. — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian setelah beredarnya video di akun TikTok Mang Kifly yang memuat informasi dugaan gangguan kesehatan terhadap siswa dan guru SMKN Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi.

 

Peristiwa tersebut disebut terjadi setelah siswa dan guru mengonsumsi makanan MBG pada Jumat lalu. Dalam informasi yang beredar, sejumlah penerima makanan disebut mengalami keluhan berupa diare dan muntah. Salah satu makanan yang menjadi sorotan dalam video tersebut adalah dimsum yang disebut masih dalam kondisi mentah.

 

Informasi tersebut mendapat perhatian Ketua KNPI Kecamatan Gunungguruh, Ujang Abdurohman, dan Ketua Karang Taruna Kecamatan Gunungguruh, Miftahudin. Keduanya meminta informasi yang telah beredar luas itu tidak hanya menjadi perbincangan di media sosial, tetapi segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan resmi.

 

Ujang Abdurohman mengatakan, apabila benar terdapat siswa dan guru yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG, maka perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.

 

“Kami menyikapi dengan tegas adanya video yang viral terkait dugaan keracunan makanan. Kalau memang siswa dan guru mengalami diare maupun muntah setelah mengonsumsi makanan tersebut, kami berharap segera ada tindak lanjut dari pihak yang berwenang,” ujar Ujang, Rabu (7/10/2026).

 

Ia mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, puskesmas, serta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan penelusuran sesuai kewenangannya, termasuk memastikan kondisi makanan dan proses pengelolaannya.

 

Sementara itu, Miftahudin meminta adanya investigasi terhadap yayasan atau dapur MBG yang disebut menyediakan makanan tersebut. Terlebih, dapur MBG yang menjadi sorotan disebut berada di wilayah sekitar Kecamatan Gunungguruh dan merupakan bagian dari pelaksanaan program MBG yang bermitra dengan BGN.

 

Menurutnya, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan standar pengolahan, kelayakan makanan, hingga mekanisme distribusi kepada para penerima manfaat.

 

“Kami berharap ada investigasi secara terbuka supaya persoalan ini jelas. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan hanya dari video yang beredar,” kata Miftahudin.

 

Namun demikian, informasi mengenai dugaan keracunan tersebut masih memerlukan verifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut. Keluhan diare dan muntah yang dialami siswa maupun guru belum dapat secara otomatis disimpulkan disebabkan oleh makanan MBG atau dimsum yang dikonsumsi.

 

Untuk memastikan penyebabnya, diperlukan pemeriksaan medis terhadap korban serta, bila diperlukan, pengujian sampel makanan dan pemeriksaan terhadap proses pengolahan serta distribusinya.

 

Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari pihak sekolah, pengelola dapur/yayasan MBG, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, maupun BGN mengenai hasil pemeriksaan atas informasi yang beredar tersebut.

 

KNPI dan Karang Taruna Kecamatan Gunungguruh berharap instansi terkait segera melakukan klarifikasi dan investigasi secara objektif agar fakta mengenai kejadian tersebut dapat diketahui secara jelas serta tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

(Lutfi)